|
Oleh : Reihan Mustafa Dalam kitab Imam Al-Ghazali, Mukasyafatul Qulub dijelaskan bahwa dinamakan Sya’ban karena bulan ini memiliki beberapa cabang kebaikan yang sangat banyak. Sya’ban diambil dari kata Asy-Syi’bi, yang berarti thariqul jabali (jalan gunung atau jalan yang menanjak naik), yaitu jalan kebaikan.
Diriwayatkan dari Abi Ummah Al-Bahili ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “Apabila bulan Sya’ban telah masuk (datang), sucikanlah jiwa anda dan perbaikilah niat anda dalam bulan itu.”
Diriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata :”Sesungguhnya Rasulullah saw berpuasa, sehingga kami mengatakan apakah beliau tidak berbuka, lalu beliau berbuka. Dan sehingga kami mengatakan kapan beliau tidak berpuasa. Adakah beliau paling banyak berpuasa di bulan Sya’ban (selain bulan Ramadhan).”
Dalam riwayat An-Nasai dari hadis Usamah ra, ia berkata :”Ya Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa pada suatu bulan dari bulan-bulan ini, seperti puasamu dalam bulan Sya’ban.”Beliau bersabda :”Itu adalah sebuah bulan yang biasa dilalaikan manusia, yaitu bulan antara Rajab dan Ramadhan. Sya’ban adalah sebuah bulan, pada bulan itu amal-amal diangkat (dilaporkan) kepada Tuhan seru sekalian alam. Maka aku suka amalku diangkat, sementara aku dalam keadaan berpuasa.
Di dalam Sahihain (Bukhari dan Muslim) diriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata :”Aku tidak pernah melihat beliau menyempurnakan puasa satu bulan penuh sama sekali kecuali bulan Ramadhan, dan aku tidak melihat beliau puasa dalam suatu bulan yang lebih banyak daripada bulan Sya’ban.” Dalam suatu riwayat dikatakan :”Beliau berpuasa penuh di bulan Sya’ban.” Imam Muslim berkata :”Beliau berpuasa bulan Sya’ban, kecuali sedikit (yang tidak ber puasa). Riwayat ini menjelaskan riwayat pertama. Yang dimaksud kan dengan puasa sepenuh bulan adalah sebagian terbesarnya.
Dikatakan, bahwa sesung guhnya malai kat-malaikat dilangit memil iki dua buah malam hari raya. Sebagai mana orang-orang Islam dibumi juga memiliki dua buah malam hari raya. Lalu hari raya malaikat adalah malam Bara’ah yaitu malam Nishfu Sya’ban dan malam Lailatul Qadar. Sedangkan hari raya orang-orang mukmin adalah Raya Fitri dan Adha. Karena itulah, maka malam Nishfu Sya’ban disebut malam raya malaikat.
As-Subki menjelaskan dalam kitab Tafsirnya :”Sesungguhnya malam Nishfu Sya’ban akan menghapus dan menghapus dosa setahun. Sedangkan malam jum’at akan menghapus dosa seminggu, dan malam Lailatul Qadar menghapus dosa seumur hidup. Yakni , menghidupkan malam-malam ini (dengan memperbanyak ibadah) menjadi sebab dihapusnya dosa. “malam Nishfu Sya’ban juga disebut sebagai malam-malam kehidupan. Karena adanya riwayat dari
–Al-Munzdiri secara marfu’ : ”Barang siapa yang neghidupkan dua malam hari Raya dan malam Nishfu Sya’ban,maka hati nya tidak akan mati pada saat hati-hati dalam kondisi mati.” Malam Nishfu Sya’ban juga disebut sebagai malam syafa’at karena Nabi saw minta syafa’at kepada Allah swt pada malam ketiga belas buat umatnya,lalu Allah memberinya sepertiga. Beliau minta itu kepadaNya pada malam keempat belas, lalu Allah memberinya dua pertiga dan beliau minta syafa’at buat umatnya pada malam kelima belas, lalu Allah memberi seluruhnya, kecuali orang yang lari melepaskan diri dari Allah seperti larinya unta. Yakni, lari menjauh dari Allah dengan mengabdikan pada perbuatan durhaka. [Reihan Mustafa] |